Praktikum Pekan ke-2

PEMERIKSAAN PARAMETER MATERIAL PEMBENTUK BETON
Jumat, 27 September 2019
Laboratorium Rekayasa Struktur

Pada praktikum kedua ini, kami mengerjakan 6 modul praktikum yang bertujuan untuk menentukan uji kelayakan dan parameter bahan rancangan beton, diantaranya Pemeriksaan Berat Volume Agregat , Analisis Saringan Agregat Halus dan Agregat Kasar , Pemeriksaan Kadar Organik dalam Agregat Halus , Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus , Pemeriksaan Kadar Air Agregat , serta Berat Jenis dan Penyerapan Agregat .
1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
1.1 Tujuan Percobaan
Menentukan kadar air dalam agregat dengan cara pengeringan.
1.2 Alat dan Bahan
Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 %
  2. Oven dengan suhu bisa diatur sampai (110±5)°C
  3. Talam logam tahan karat
Bahan
  1. Agregat kasar 2147 g (diameter 5mm)
  2. Agregat halus 1820 g (diameter 5mm)
1.3 Prosedur Percobaan
  1. Timbang dan catat berat talam (W1).
  2. Masukkan benda uji ke dalam talam. Kemudian timbang (W2).
  3. Hitung berat benda uji (W3 = W2-W1).
  4. Keringkan benda uji di dalam oven pada suhu (110±5)°C hingga beratnya tetap.
  5. Catat berat setelah dioven (W4).
  6. Berat benda uji kering (W5 = W4-W1).
1.4 Perhitungan
Tabel 1 Observasi dan Perhitungan Data Kadar Air Agregat

Observasi I
Agregat HalusAgregat Kasar
A. Berat Wadah77 gram149 gram
B. Berat Wadah + Benda Uji1897 gram2468 gram
C. Berat benda uji (B-A)1820 gram2319 gram
D. Berat benda uji1691 gram2228 gram
Kadar Air =7,63 % (KA1)4,08 % (KA1)
Obeservasi II
Agregat HalusAgregat Kasar
A. Berat Wadah90 gram144 gram
B. Berat Wadah + Benda Uji2268 gram2291 gram
C. Berat benda uji (B-A)2178 gram2147 gram
D. Berat benda uji2020 gram2062 gram
Kadar Air =7,82 % (KA2)4,12 % (KA2)
Kadar air rata =5,9125 %

1.5 Analisis Data
           Dapat dilihat dari tabel 3.1 bahwa kadar air agregat halus lebih besar daripada agregat kasar pada kedua observasi yang dilakukan. Hal itu karena keadaan awal pasir diletakkan di luar ruangan pada keadaan lembab, sedangkan agregat kasar diletakkan pada wadah di dalam ruangan dalam keadaan kering.
2. Pemeriksaan Berat Volume Agregat
2.1 Tujuan Percobaan
Menghitung berat volume agregat halus, kasar, atau campuran.
2.2 Alat dan Bahan
Alat
  1. Timbangan
  2. Talam
  3. Tongkat pemadat
  4. Mistar perata
  5. Sekop
  6. Wadah baja
Bahan
  1. Agregat halus dalam kondisi kering (pasir)
  2. Agregat kasar dalam kondisi kering (kerikil)
2.3 Prosedur Percobaan
           Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan Tabel spesifikasi wadah baja yang digunakan dalam praktikum. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110±5)°C sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
1.  Berat isi lepas
  1. Timbang dan catatlah berat wadah
  2. Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm diatas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
  3. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
  4. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2) 
  5. Hitunglah berat benda uji (W3=W2-W1)
2. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5″) dengan cara penusukan
  1. Timbang dan catat berat wadah (W1).
  2. lsilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara merata.
  3. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
  4. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
  5. Hitunglah berat benda uji (W3=W2-W1).
3. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penggoyangan.
  1. Timbang dan catat berat wadah (W1).
  2. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
  3. Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut:
  4. Letakkan wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan.
  5. Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi.
  6. Ratakan permukaan dengan menggunakan mistar perata.
  7. Timbang dan catatlah berat benda wadah beserta benda uji (W2)
  8. Hitunglah berat benda uji (W3= W2 – W1).
2.4 Hasil Percobaan
Tabel 2  Observasi dan Perhitungan Berat Volume Agregat

Observasi I
PadatGembur
Agregat HalusAgregat KasarAgregat HalusAgregat Kasar
A. Volume Wadah3,733 Ltr3,733 Ltr3,733 Ltr3,733 Ltr
B. Berat Wadah1,82 Kg1,82 Kg1,82 Kg1,82 Kg
C. Berat Wadah + Benda Uji7,703 Kg7,45 Kg7,301 Kg6,954 Kg
D. Berat Benda Uji (C-B)5,883 Kg5,63 Kg5,481 Kg5,134 Kg
Berat Volume D/A1,576 Kg/L1,508 Kg/L1,468 Kg/L1,375 Kg/L
Observasi II
PadatGembur
Agregat HalusAgregat KasarAgregat HalusAgregat Kasar
A. Volume Wadah3,733 Ltr3,733 Ltr3,733 Ltr3,733 Ltr
B. Berat Wadah1,82 Kg1,82 Kg1,82 Kg1,82 Kg
C. Berat Wadah + Benda Uji7,716 Kg7,315 Kg7,38 Kg6,798 Kg
D. Berat Benda Uji (C-B)5,896 Kg5,495 Kg3,56 Kg4,078 Kg
Berat Volume D/A1,579 Kg/L1,472 Kg/L1,489 Kg/L1,334 Kg/L
Kondisi Volume Rata-Rata
Kondisi Padat  =  = 1,53375 Kg/L
Kondisi Gembur =  = 1,4165 Kg/L

2.5 Analisis
           Pada percobaan tersebut, didapatkan pada observasi I berat volume agregat kasar pada kondisi gembur adalah 1,375 Kg/L. Sedangkan, berat volume agregat kasar pada kondisi padat adalah 1,508 Kg/L. selain itu, didapatkan berat volume agregat halus pada kondisi gembur adalah 1,468 Kg/L. Sedangkan, berat volume agregat halus pada kondisi padat adalah 1,576 Kg/L.
           Dapat disimpulkan dari data percobaan diatas didapatkan bahwa berat volume padat baik pada agregat kasar maupun agregat halus lebih berat daripada berat volume gembur. Hal ini terjadi karena perlakuan yang berbeda pada kedua percobaan tersebut yaitu karena dipadatkan dan tidak dipadatkan. Pada saat agregat dipadatkan maka rongga udara di sela-sela terisi sehingga rongga udara pada kondisi padat lebih sedikit dibandingkan saat kondisi gembur.
3. Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
3.1 Tujuan Percobaan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram dan kapasitas minimum 1000 gram
  2. Piknometer dengan kapasitas 500 gram
  3. Cetakan kerucut pasir
  4. Tongkat pemadat dari logam
Bahan
  1. Agregat halus 1000 gram
3.3 Prosedur Percobaan
  1. Agregat jenuh air dikeringkan hingga kondisi kering.
  2. Sebagian dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat. Jumlah tumbukan adalah 8 kali. Kondisi SSD diperoleh ketika cetakan diangkatm butir-butir pasir longsor / runtuh.
  3. Contoh agregat halus sebesar 500gr dimasukkan ke piknometer. Kemudian isi air hingga 90% penuh. Bebaskan gelembung udara. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air
  4. Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan dengan suhu (212 +/- 130) derajat Farenheit. Harus diselesaikan dalam 24 jam.
  5. Timbang piknometer yang diisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4 +/- 3) derajat Farenheit dengan ketelitian 0,1 gr.
3.4 Perhitungan
Tabel 3  Observasi dan Perhitungan Data Absorpsi dan Bulk Specific Gravity Agregat Halus

Observasi I
A. Berat piknometer152 gram
B. Berat contoh kondisi SSD500 gram
C. Berat piknometer + air + contoh SSD952 gram
D. Berat piknometer + air651 gram
E. Berat contoh kering472 gram
Apparent specific gravityE/(E+D-C)2,76
Bulk specific gravity kondisi keringE/(B+D-C)2,372
Bulk specific gravity kondisi SSDB/(B+D-C)2,513
Persentase absorpsi(B-E)/E x 100%5,932 %
Observasi II
A. Berat piknometer153 gram
B. Berat contoh kondisi SSD500 gram
C. Berat piknometer + air + contoh SSD951 gram
D. Berat piknometer + air651 gram
E. Berat contoh kering476 gram
Apparent specific gravityE/(E+D-C)2,704
Bulk specific gravity kondisi keringE/(B+D-C)2,38
Bulk specific gravity kondisi SSDB/(B+D-C)2,5
Persentase absorpsi(B-E)/E x 100%5,042 %
Rata-rata
Apparent specific gravity2,732
Bulk specific gravity kondisi kering2,375
Bulk specific gravity kondisi SSD2,506
Persentase absorpsi5,487 %

3.5 Analisis Data
           Dari percobaan modul 7, untuk agregat halus, didapatkan bahwa nilai rata-rata apparent specific gravity adalah 2,732. Bulk specific gravity kondisi kering adalah 2,375, bulk specific gravity kondisi SSD (Surface Saturated Dry) adalah 2,506, serta persentase absorpsi agregat halus adalah 5,487%.
4. Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
4.1 Tujuan Percobaan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat kasar.
4.2 Alat dan Bahan
  1. Timbangan dengan ketelitian minimal 0,5 gram dan kapasitas maksimum 5 kg
  2. Keranjang besi Diameter 8” dan tinggi 2,5”.
  3. Alat penggantung keranjang.
  4. Handuk atau kain pel
4.3 Prosedur Percobaan
  1. Benda uji direndam 24 jam.
  2. Dikeringkan permukaannya dengan handuk, tetapi harus masih tampak lembab (kondisi SSD)
  3. Timbang contoh. (Berat contoh kondisi SSD = A)
  4. Contoh benda uji dimasukkan dalam keranjang dan direndam kembali di dalam air yang temperaturnya terjaga (73,4 +/- 3) derajat Farenheit, lalu kemudian ditimbang. Sebelum ditimbang keranjang digoyang di dalam air untuk melepas udara yang terperangkap. (Berat contoh kondisi jenuh = B)
  5. Contoh dikeringkan pada oven dengan temperatur (212 +/- 130) derajat Farenheit. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. (Berat contoh kondisi kering = C)
4.4 Perhitungan
Tabel 4  Observasi dan Perhitungan Data Absorpsi dan Bulk Specific Gravity Agregat Kasar

Observasi I
A. Berat contoh SSD3000 gram
B. Berat contoh dalam air1921 gram
C. Berat contoh kering udara2915 gram
Apparent specific gravityC/(C-B)2,915
Bulk specific gravity kondisi keringC/(A-B)2,7
Bulk specific gravity kondisi SSDA/(A-B)2,78
Prosentase absorpsi air absorpsi(A-C)/C x 100%2,42 %
Observasi II
A. Berat contoh SSD3000 gram
B. Berat contoh dalam air1938 gram
C. Berat contoh kering udara2919 gram
Apparent specific gravityC/(C-B)2,95
Bulk specific gravity kondisi keringC/(A-B)2,72
Bulk specific gravity kondisi SSDA/(A-B)2,8
Prosentase absorpsi air absorpsi(A-C)/C x 100%2,77 %
Rata-rata
Apparent specific gravity2,94
Bulk specific gravity kondisi kering2,71
Bulk specific gravity kondisi SSD2,79
Persentase absorpsi air absorpsi2,854 %

4.5 Analisis Data
           Dari hasil percobaan untuk agregat kasar, didapat :Rata-rata nilai Apparent Specific Gravity sebesar 2,94. Bulk Specific Gravity (kering) 2,71 . Bulk Specific Gravity (SSD) 2,79. Presentase Absorbsi Air 2,854%
5. Analisis Saringan Agregat Halus
5.1 Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dengan uji saringan.
5.2 Alat dan Bahan
  1. Timbangan dan neraca
  2. Wadah
  3. Oven
  4. Sekop
  5. Talam-talam
  6. Kuas, sikat kawat, sendok, ,dan alat-alat lainnya
  7. Satu set saringan agregat halus dan kasar dengan ukuran (secara berurutan)
Tabel 5 Ukuran Saringan

Nomor SaringanUkuran Lubang
mmInch
9,53/8
No. 44,75
No. 82,36
No. 161,18
No. 300,6
No. 500,3
No. 1000,150
No. 2000,075

5.3 Prosedur Pemeriksaan
  1. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pada temperature 110+/-5oC,kemudian dinginkan pada temperature ruangan
  2. Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan
  3. Persiapkan saringan yang akan digunakan
  4. Setelah saringan disusun, letakan sampel agregat di atas saringan
  5. Goyangkan saringan dengan tangan/mesin
  6. Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan
  7. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaanya lebih dari 0,3% dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat
5.4 Perhitungan
Tabel 6 Analisis Saringan Agregat Halus

Ukuran Saringan (mm)Berat Tertahan (gr)Persentase Tertahan (%)Persentase Tertahan Kumulatif (%)Persentase Lolos Kumulatif (%)SPEC ASTM C33-90
9.5000100100
4.75193.783.7896.2295-100
2.36479.3413.1286.8880-100
1.187715.3128.4371.5750-85
0.611623.0651.4948.5125-60
0.39719.2870.7729.2310-30
0.159518.8989.6610.342-10
0.075367.1696.823.18
PAN163.181000
Modulas Kehalusan3.54

5.5 Analisis


Grafik 1 Kurva Gradasi Agregat Halus
                    Grafik yang didapatkan setelah memplotkan adalah tipe gradasi menerus. Menurut grafik dapat disimpulkan bahwa agregat halus yang di uji memiliki distribusi yang baik semua ukuran merata.
6. Analisis Saringan Agregat Kasar
6.1 Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat kasar dengan uji saringan.
6.2 Alat dan Bahan
  1. Timbangan dan neraca
  2. Wadah
  3. Oven
  4. Sekop
  5. Talam-talam
  6. Kuas, sikat kawat, sendok, ,dan alat-alat lainnya
  7. Satu set saringan agregat halus dan kasar dengan ukuran (secara berurutan)
Tabel 7 Ukuran Saringan Agregat Kasar

Nomor SaringanUkuran Lubang
mmInch
253/8
19
9.5
No. 44.75
No. 82.38

6.3 Prosedur Percobaan
  1. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pada temperature 110+/-5oC,kemudian dinginkan pada temperature ruangan
  2. Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan
  3. Persiapkan saringan yang akan digunakan
  4. Setelah saringan disusun, letakan sampel agregat di atas saringan
  5. Goyangkan saringan dengan tangan/mesin
  6. Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan
  7. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaanya lebih dari 0,3% dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat
6.4 Perhitungan
Tabel 8 Analisis Saringan Agregat Kasar

Ukuran Saringan (mm)Berat Tertahan (gr)Persentase Tertahan (%)Persentase Tertahan Kumulatif (%)Persentase Lolos Kumulatif (%)SPEC ASTM C33-90
25.00000100100
19.0067222.4422.4477.5690-100
9.50197465.9188.3511.6520-55
4.752909.6898.031.970-10
2.38591.9710000-5
Modulus Kehalusan2.08

6.5 Analisis Data


Grafik 2 Kurva Gradasi Agregat Kasar.
Grafik yang didapatkan setelah memplotkan adalah tipe gradasi seragam. Menurut grafik dapat disimpulkan bahwa agregat kasar yang di uji cocok dipakai untuk beton ringan yaitu jenis beton tanpa pasir (nir-pasir) atau untuk mengisi agregat dengan gradasi sela, atau untuk campuran agregat yang kurang baik atau tidak memenuhi syarat.
7. Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
7.1 Tujuan Percobaan
Menentukan besarnya kadar lumpur dalam agregat halus.
7.2 Alat dan Bahan
Alat
  1. Gelas ukur
  2. Alat pengaduk
Bahan
  1. Pasir secukupnya dengan air
7.3 Prosedur Percobaan
  1. Contoh benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukur.
  2. Tambahkan air dalam gelas ukur untuk melarutkan lumpur.
  3. Gelas dikocok agar mencuci agregat halus dari lumpur.
  4. Simpan gelas pada tempat yang datar dan biarkan 24 jam.
  5. Ukur tinggi pasir (V1) dan lumpur (V2).
7.4 Perhitungan
Tabel 9 Perhitungan Kadar Lumpur

Tinggi lumpur (V2)11 ml
Tinggi pasir (V1)141 ml
Kadar Lumpur V2/(V1+V2) x 100%7.23%

7.5 Analisis Data
           Pemeriksaan kadar lumpur ini merupakan cara lain untuk menentukan pemeriksaan kadar lumpur selain dengan cara penyaringan bahan lewat saringan No. 200.  Jika dibandingkan dengan peraturan atau ketentuan yang memperbolehkan kandungan lumpur < 5% pada agregat halus untuk pembuatan beton, maka kandungan lumpur pada benda uji agregat halus (pasir) yang digunakan telah melebihi peraturan atau ketentuan yang ada, yaitu 7.23% (>5%), karena agregat halus mengandung lumpur 7.23% yaitu lebih dari 5% maka agregat uji tidak lolos syarat teknis beton.
8. Pemeriksaan Zat Organik dalam Agregat Halus
8.1 Tujuan Percobaan
Menentukkan kadar organik pada agregat halus.
8.2 Alat dan Bahan
Alat
  1. Botol gelas tembus pandang dengan penutup yang tidak bereaksi dengan NaOH. Volume gelas = 350 mL
  2. Standar warna
  3. Larutan NaOH
Bahan
  1. Agregat halus (Pasir) Volume 115 mL
8.3 Prosedur Percobaan
  1. 115 ml pasir dimasukkan ke dalam botol.
  2. Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah dikocok, isinya harus mencapai kira-kira 3/4 volume botol.
  3. Tutup botol gelas tersebut dan kocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan 24 jam agar lumpur mengendap.
  4. Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan dengan standar warna.
8.4 Hasil Pengamatan
           Warna air berubah warna menjadi kekuning-coklatan namun tidak pekat jika dibandingkan dengan standar warna berada dia daerah transisi diantara nomer 3 dan 2.


Gambar 1 Larutan Setelah 24 jam.
8.5 Analisis Data
           Warna larutan tidak menunjukkan warna kuning pekat. Standar warna yang menunjukkan kadar agregat dalam batas wajar adalah No. 3. Artinya, kadar organik pada pasir masih dalam batas wajar

Comments

Popular Posts